Oleh : Eileen Rachman & Syilvina Savitri
Dikutip Dari : Kompas Klasika. Sabtu, 10 Desember 2011
![]() |
| Add caption |
Paham yang dimaksud di sini bukan hanya pengetahuan yang sifatnya “Instant Knowledge” yang hanya diperoleh melalui facebook ataupun twitter yang dikemas dalam tulisan yang terbatas hanya beberapa karakter, celakanya pengetahuan berupa “Instant Knowledge” inilah yang bagi beberapa orang diandalkan sebagai sumber pemahamannya terhadap sesuatu. Pertanyaannya sudah cukupkah pengetahuan berkembang dengan medium seperti ini ? Apakah kita memang tidak memerlukan fokus, pendalaman latar belakang suatu gejala, untuk memahami sesuatu dengan benar dan tepat ?
